Tampilkan postingan dengan label KPOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KPOP. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Agustus 2012
Selasa, 07 Agustus 2012
IF YOU ASK ME THE LOVE (chapter 4)
Kali ini, udara musim gugur benar-benar terasa. Angin
berhembus kencang membawa dedaunan pergi meninggalkan rantingnya. Tapi, suasana
seperti ini tidak menjadi alasan orang-orang untuk menolak menyaksikan sebuah
pemotretan di taman ini. Aku dan Seung Ho sedang berjalan-jalan di taman kota
ini, seketika kami dibuat penasaran oleh kerumunan orang di sudut taman, di
dekat sebuah kolam ikan. Dan setelah aku bertanya, ternyata itu pemotretan
sebuah iklan pariwisata Seoul. Sudah tidak asing. “nunnan, apa tidak sebaiknya
kita mencoba stik ikan bakar itu?” usul Seung Ho sambil menunjuk sebuah gerobak
berkaki empat “kau mau mencobanya?” tanyaku sambil melambatkan langkah “ya”
jawabnya sambil mengangguk “baiklah, kita akan mencobanya” tambahku lalu
mendekati gerobak itu, Seung Ho membuntutiku dari belakang. Ini kali keduanya
kami bisa berjalan-jalan bersama, sebelumnya aku disibukkan oleh tugas
kuliahku, dan kini aku tenggelam sendiri dalam sibuknya pekerjaan, menyebabkan
aku dan Seung Ho jarang sekali menikmati waktu santai bersama. Tapi kini aku
menyempatkan diri karena kesalahanku kemarin: melupakan kunci rumahku, yakni
membelikan Seung Ho oleh-oleh. “ahjumma (bibi), saya pesan dua stik ikan,
boleh?” ucapku pada bibi pelayan yang sibuk menusuk-nusuk stik ikan panjang
dengan kayu ramping yang pastinya lebih panjang “keurae..” jawab bibi itu
sambil tersenyum padaku, dengan sigap ia langsung mengambil dua batang stik
ikan lalu meletakannya diatas pemanggang. Beberapa detik kemudian, api mulai
menyalat-nyalat ke atas dan melahap dua stik ikan tadi sehingga menimbulkan
asap. Berkali-kali aku terbatuk walaupun sering kukibaskan sebelah tanganku
bermaksud menghindari asap tersebut. Kulihat Seung Ho juga begitu. Tapi kiranya
usahaku sia-sia, tetap saja asap itu menggangguku sekalipun aku memohon. Jadi,
kuputuskanlah untuk menghindar setelah benar-benar tidak sanggup dikerumuni
asap yang mengebul-ngebul itu. Kutarik lengan Seung Ho yang sedang menutup
mulutnya, aku berpindah kira-kira satu setengah
meter dari tempat tadi. Dan akhirnya aku bisa bernafas lega “hampir saja
aku mati” celetuk Seung Ho asal-asalan “bicara yang benar,bodoh” anggapku
dengan nada menyindir, Seung Ho menoleh ke arahku sejenak lalu kembali membuang
muka. Aku memperhatikan bibi penjual stik tadi dari kejauhan, ia biasa saja,
tidak terbatuk-batuk, tidak mengibas-ngibaskan tangannya, juga tidak berkata
“hampir saja aku mati’’ layaknya Seung Ho tadi. Aku berdecak dalam hati.
“nona muda,
ini pesanan anda” sahut bibi penjual stik dengan ramah, aku menyunggingkan
seulas senyumku seraya mendekati gerobaknya, Seung Ho tetap bergeming. Bibi itu
menyerahkan dua stik itu padaku, lalu kutukar dengan dua lembar uang 1000 won
padanya “gomawo” ucapnya, aku mengangguk dan tersenyum kembali.
***
“Kau yakin
ingin melihatnya?” aku menoleh pada Seung Ho yang sedang asyik melahap stik
ikan bakarnya dengan semangat, ia menghentikan gerakan mengunyahnya lalu
berbalik menoleh padaku ‘’ayolah nunnan.. semua orang berkerumun disana dan aku
tidak ingin ketinggalan” jawabnya dengan nada memohon, aku mengalihkan
pandangan dan menerawang kedepan, Seung Ho membiarkan aku berpikir.
Iya…tidak…iya…tidak…iya… “ayolah nunnan..” Seung Ho kembali mendesak “baiklah,
ayo” jawabku sambil bangkit dari bangku yang sejak tadi kami duduki, Seung Ho
menyeringai dan ikut bangkit “kau benar-benar ingin melihatnya?”tanyaku sekali
lagi “tentu saja” jawabnya tegas “ayo” ajakku dan mulai berjalan mendekati
kerumunan orang tadi.
“astaga..
ramai sekali” celetuk Seung Ho “tadi kau bilang ingin melihatnya..” komentarku
bermaksud memojokkannya “memang, aku hanya ingin mengekspresikan kekagumanku”
bisa saja ia beralasan, aku tahu, pasti ia tidak ingin ketinggalan berita
dengan teman-temannya.
Kerumunan
orang ini membuat telingaku bising. Salah satu kru pemotretan kalang kabut
untuk menetralkan keadaan, tapi tetap saja suasana gaduh. Aku mengikuti langkah
Seung Ho yang sedang mencari celah kosong agar kami bisa melihat keseluruhan
pemotretan. Beberapa lama kemudian, sebuah celah mengizinkan kami, kami
langsung menutup celah. Modelnya seorang pria dan wanita rupanya, wajah mereka
sudah tidak asing lagi sepertinya, lihat saja, para penonton berteriak
kegirangan memanggil nama dua model tersebut. Maksudku, sepertinya kedua model
tersebut terkenal, mungkin. Aku sendiri samasekali tidak tertarik pada
kehidupan entertainment, jadi.. aku tidak peduli.
“Perfect!”
seru seorang kru yang sejak tadi berkuasa dengan didahului cahaya blitz
terakhir dari lensa kamera. Riuh tepuk tangan menyusul, akupun ikut-ikutan.
Kedua model tadi terlihat puas sekali, mereka ber-high five dengan dua tangan
dan senyuman cerah “pemotretan akhir ya..” celetuk Seung Ho, terdengar nada kecewa darinya. Aku
menoleh tanpa memberi komentar “kita terlambat, nunnan..” sesalnya tanpa menoleh
padaku “bersyukurlah kau masih bisa melihatnya” tanggapku, Seung Ho menoleh dan
hendak mengatakan sesuatu “walaupun terlambat” tambahku mendahuluinya, ia
menutup mulutnya kembali. Akupun kembali menatap kedepan.
***
Aku
mematikan lampu kamarku. Sejenak kemudian, bintang-bintang di langit-langit
kamarku menyala dengan sendirinya. Segera kurebahkan tubuhku pada tempat tidur
ber-cover pink muda dengan corak polkadot. Keadaan sudah sunyi senyap, sekarang
jam 11.30 PM. Aku sedang tidak berpikir apapun dan malas untuk berpikir
apa-apa. Kucoba memejamkan mataku untuk beberapa menit, siapa tahu nantinya aku
akan tertidur. Dalam pejaman mataku, aku berharap saat aku membuka mataku
nanti, aku akan melihat seberkas cahaya matahari masuk melalui jendela kamarku.
Namun, sepertinya itu hanya anganku. Buktinya, saat kubuka mata, aku masih
melihat bintang-bintang kamarku yang menyala. Dan kamarku masih dalam keadaan
gelap. Kucoba lagi menutup mataku. Satu menit…dua menit…tiga menit… ya ampun,
aku masih sadar. Kubuka kembali mataku, aku duduk dan merogoh ke dalam tas yang
ada di sebelah tempat tidur. Sebuah buku atau lebih tepatnya novel kukeluarkan
dari tas tersebut. Kubaca novel tersebut sambil berbaring dengan penerangan
lampu tidur kecil yang digantung di dinding belakangku. Aku tahu ini berbahaya,
tapi lebih berbahaya lagi jikalau sampai pagi nanti aku tidak bisa tidur.
Aku
tenggelam dalam kisah Harry, Hermione dan Ron. Ya, aku sedang membaca sebuah
novel Harry Potter berbahasa inggris. Sebelum itu, aku memang kuliah di fakultas
bahasa inggris, jadi bisa dibilang aku lumayan lancar berbahasa inggris. Jika
eomma (ibu) merantau ke China, aku akan merantau ke Inggris suatu hari nanti.
Itulah kalimat yang terbesit di otakku saat memutuskan untuk kuliah di fakultas
bahasa inggris. Padahal bibi Sae Eun menginginkan agar aku masuk fakultas seni,
lebih khususnya modeling, karena profesi bibi memang seorang asisten dari
seorang model yang entah aku tidak tahu namanya. Aku tidak tahu sebesar apa
kekuatan dari kalimat “jika eomma merantau ke China, aku akan merantau ke
Inggris suatu hari nanti” sehingga membuatku menentang keinginan bibi. Aku
terlalu terobsesi pada Harry Potter, kurasa.
Aku
mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mengosongkan pikiran. Selama beberapa
menit aku memegang buku, aku tidak membacanya, melainkan melamun. Kuteliti
kembali setiap baris pada novel Harry
Potter 4 : Harry Potter And The Goblet Of Fire untuk mencari sampai mana aku
membaca tadi. Setelah kutemukan, segera aku melanjutkan bacaanku itu.
Selang
beberapa waktu, aku mulai sadar bahwa cukup lama aku membaca buku. Kupikir,
setelah membaca buku, aku akan mengantuk. Tapi nyatanya aku malah lebih peka
dari sebelumnya. Astaga.
Karena
khawatir, kuraihlah jam tangan di meja lampu sebelah tempat tidur. Ya Tuhan, aku
tidak ingin menyebutkan sekarang jam berapa. Segera kututup novel Harry Potter
yang tebal itu dan kuletakkan disisiku. Kucoba lagi untuk menutup mata. Namun,
sama halnya, aku tetap sadar. Lama-lama aku lelah dan… Kesal mungkin. Kucoba
lagi beberapa kali tapi hasilnya nihil. Kau tahu sekarang jam berapa? Jam 02.40
AM.
***
Kulangkahkan
kaki kananku memasuki ruang makan yang bisa juga disebut dapur. Aku
mengusap-usap rambut sebahuku yang basah dengan handuk sambil melangkah. Kubuka
pintu kamarku dan memasuki ruangan itu. Saat kututup pintu, kutemukan bayangan
diriku di atas cermin, cermin ada dibalik pintu. Aku memerhatikan setiap lekuk
wajahku. Aku terbelalak melihat mataku yang merah, kantung mataku juga besar.
Sepertinya wajahku lebih mirip monster kali ini. Ya Tuhan, aku tidak siap untuk
keluar rumah har ini. Semalaman aku samasekali tidak tidur, atau lebih tepatnya
tidak bisa tidur. Insomniakah? Aku tidak mengerti.
Tiba-tiba
suara ketukan pintu menyebabkan cermin di depanku bergetar “nunnan!” teriak Seung
Ho disana, itu suara Seung Ho “ada apa?!” balasku tak kalah kencangnya “aku
pergi sekolah sekarang” Seung Ho merendahkan suaranya “eo..(ya)” tanggapku,
lalu disusul suara derapan kaki di luar sana. Itu tandanya Seung Ho sudah
beranjak.
Aku kembali
memfokuskan mataku kearah cermin. Keadaan mataku tidak berubah samasekali. Aku
mengerjapkan mataku berkali-kali, berharap ini halusinasi. Tetap saja, tidak
berubah samasekali. Mengetahui itu, kuhembuskan nafas panjang tanda pasrah. Ini
resiko, pikirku. Aku membalikkan badan, kutelaah setiap sudut kamarku.
Pandangan mataku memusat pada sebuah handphone putih di atas meja lampu di
samping tempat tidur. Sepertinya aku harus menelpon Ha Young. Maka, segera
kuraih handphoneku itu dan menelpon Ha Young “yeoboseyo” suara Ha Young
terdengar jauh “Ha Young-ah, kau dimana?” tanyaku, sepertinya disana sangat
ramai “aku di restoran, Hye Ri” jawabnya dengan suara yang lebih terdengar
jelas dari sebelumnya “di restoran? Memangnya jam be…” “kau tidak kemari?”
belum selesai aku bicara, Ha Young sudah menyela “kau dulu” ujar Ha Young
mengalah “kau sudah di restoran?” tanyaku sambil melirik jam alarm yang ada di
atas meja, aku terperangah mengetahui sekarang jam 08.30 AM, biasanya aku sudah
stand by di restoran “ya, disini sudah ramai, kami sedang mempersiapkan
perayaan restoran yang ke-20. Kau bisa mendengar ocehan kami bukan?” tanyanya
memastikanku, astaga, satu lagi yang kulupakan, hari ini perayaan restoran,
kacaulah semuanya “kau tidak kemari?” tuntutnya dengan suara lembut “Ha
Young-ah, kau tahu apa yang terjadi padaku?”aku membiarkan Ha Young menebak
“tidak. Apa yang terjadi padamu?’’ ia balik bertanya “aku tidak bisa tidur
semalaman” keluhku, Ha Young terkesiap “bagaimana bisa?” nada suaranya
terdengar cemas “entahlah, padahal aku sudah mencoba memejamkan amata
berkali-kali, bahkan aku membaca buku agar nantinya mengantuk, tapi bukannya
mengantuk, aku malah lebih peka” jelasku secara rinci “lalu?” Tanyanya
penasaran “akhirnya aku terjaga sepanjang malam. Dan aku tidak melakukan
apapun” Ha Young mendesah pelan “perlu kau tahu lagi. Sekarang mataku merah dan
kantung mataku besar, aku rasa aku lebih mirip monster ketimbang gadis muda.
Aku yakin kau sependapat denganku agar tidak keluar rumah jika kau menggantikan
posisiku” ujarku panjang lebar “Hye Ri-ah, sepertinya kau harus konsultasi ke
dokter” sarannya, aku berpikir sejenak “biarkan aku yang menyampaikan izinmu
pada Mr.Choi” lanjutnya, aku tersenyum kecil “kau benar, baiklah aku akan
pergi” jawabku mengakhiri telepon. Kuletakkan handphone ku kembali di atas
meja.
***
“apa
keluhanmu nona muda?” Tanya dokter berusia limapuluhan yang duduk di hadapanku.
Aku melirik sebuah pin di bajunya, ooh.. namanya Kim So Yin. Aku sedang berada
di ruangannya di sebuah rumah sakit pusat Incheon. Dan aku memakai kacamata
hitam untuk menutup mata bengkak ini. Dokter itu berdeham, aku menyadarkan
diriku “maaf nyonya, saya.. melamun” ujarku mengakui, dokter Kim tertawa kecil,
aku jadi malu dibuatnya. “baiklah, perlu kutahu. Siapa namamu?” tanyanya dengan
suara yang bersahabat “Kang-Hye-Ri” jawabku dengan ejaan, Dokter Kim menulis di
selembar kertas note “apa yang terjadi padamu?” tanyanya lagi, aku menghela
nafas sejenak, ia menatapku, menanti jawabanku “baiklah..” gumamku sambil
membuka kacamata hitam yang sejak tadi kukenakan, kuturunkan kacamata itu dari
wajahku “astaga..” gumam Dokter Kim pelan “jelaskan padaku apa yang terjadi
padamu?” Tanyanya dengan suara bijak, kutundukkan kepalaku “aku tidak dapat
tidur semalaman kemarin, aku terjaga sepanjang malam tanpa melakukan apapun”
jawabku masih tertunduk “apa hal itu sering terjadi padamu?” tanyanya lagi, aku
menggeleng lambat “sebelumnya.. aku tidak pernah sampai separah ini” ujarku
memulai “sebelumnya.. aku sering tidur hanya dua jam atau tiga jam” tambahku.
Kuberanikan diriku menatap kedua mata Dokter Kim yang sayu “sebenarnya, hal itu
tidak akan menyebabkan hal separah matamu itu.. tapi sepertinya kau kelelahan
hari itu. Hal seperti ini memang sering terjadi pada wanita, apalagi jika
wanita itu super sibuk” jelas Dokter Kim dengan segala pengetahuannya, aku
membenarkan dalam hati “bisa kuperiksa matamu?” tawarnya sambil bangkit dari
kursi besarnya “tidak masalah” jawabku ringan, ia mendekat lalu duduk di kursi
sebelahku, aku memutar kursiku 90 derajat agar dapat berhadapan dengannya. Ia
mengeluarkan sebuah senter kecil dari jas putihnya, kemudian, aku menyipitkan
mataku yang bertemu dengan sorotan sinar senter tersebut. Dokter Kim menekan
pelipisku dan menyorotkan senter tadi pada mataku. Aku hanya diam.
Dokter Kim
memasukkan kembali senter tadi ke dalam jasnya dan kembali duduk di kursi
pribadinya. Akupun kembali ke posisiku semula. “sepertinya kau insomnia”
ujarnya sambil menatapku lekat. Aku terpaku, melihat ekspresi tegangku, ia
tertawa, atau hanya menyeringai “insomnia memang sering terjadi pada wanita.
Jangan takut.. itu tidak seburuk seperti kedengarannya” hiburnya dengan suara
lembut, aku memaksakan seulas senyum “kau hanya perlu minum obat tidur setiap
sebelum tidur, dan kau akan bisa tidur tenang” lanjutnya. Tiba-tiba terdengar
suara pintu diketuk.
***
Sabtu, 04 Agustus 2012
IF YOU ASK ME THE LOVE (chapter 3)
Kilauan sinar matahari menyadarkanku dari sebuah tidur singkat. percaya atau tidak, malam ini aku hanya tidut kira-kira tiga jam. semalaman aku dibuat pusing oleh pria berkacamata di bus kemarin. entah mengapa aku sangat ingin mengetahui identitas pria tersebut sejelas-jelasnya. tapi mungkin memang bukan waktunya.
"nunnan.. aku berangkat duluan ya!" seru Seung Ho dari ruang depan. dengan gerakan lemas, aku mencoba meraih alarm-ku yang berdiri di atas meja kecil di samping tempat tidurku, cukup kukumiringkan alarm tersebut kira-kira 15 derajat dan aku bisa mengetahui bahwa sekarang jam 06.45 AM.
Kucoba membangkitkan badanku dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. kubasuh wajah suntukku dengan air yang terasa dingin juga sabun pencuci muka. setelahnya, aku merasa lebih fresh. Tiba-tiba perutku menimbulkan suara, ya ampun, aku sudah menduga hal itu. terang saja, pasalnya tadi malam aku belum memasukkan satu jenispun makanan ke dalam perutku. jadi, tanpa paksa, kubawa tubuhku ke dapur, dan membiarkan tanganku mengambil dua lapis roti, mengolesinya dengan selai strawberry, lalu memasukkan keduanya ke dalam pemanggang roti listrik.
Lima menit berlalu, kumatikan segera pemanggang roti tadi, mengambil rotinya, lalu menyantap sarapan pagiku itu dengan lahap. gerakanku terhenti ketika kudengar handphoneku bergetar di atas meja makan, segera kuraih handphone itu, bibi Sae Eun menelponku "yeoboseyo?" sapa bibi dari sana "ya, ada apa bi?" jawabku "Hye Ri-ah, kau ada dimana?" tanya bibi tanpa basa-basi "aku di rumah bi" ujarku singkat, lalu mengambil segelas susu dan meneguknya "jam berapa kau akan pulang kerja? apa kau punya jadwal hari ini?" dengan nada interogasi "aku akan pulang jam 06.00 PM, tapi setelah itu aku ada janji dengan Seung Ho, dia minta kuajak jalan-jalan" jelasku sambil melirik jam dinding "benarkah?" terdengar nada kecewa disana "maaf.." kataku penuh hati-hati "tak apa, mungkin lain kali" ujar bibi menenangkan dirinya "kurasa besok jadwalku kosong, aku bisa jika bibi ingin bertemu" tawarku agar bibi merasa lebih baik "benarkah? keurae (baiklah) bibi akan telepon lagi nanti, oke?" suaranya terdengar bersemangat, aku tersenyum simpul "oke" jawabku sebelum jaringan telepon terputus.
***
Bel rumahku berbunyi ketika kulangkahkan kaki dari kamar mandi. siapa yan datang pagi-pagi begini? tidak biasanya. aku meneruskan langkahku hingga tiba di ruang depan, seorang wanita berambut panjang sepinggang muncul di layar interkom, Ha Young rupanya. "Hye Ri-ah, ini aku!" serunya bernada ceria, serupa dengan wajahnya yang cerah. "tunggu, aku akan bukakan pintunya" jawabku dan segera membuka pintu. "Ha Young, masuklah" pintaku, Ha Young menggeleng cepat "tidak, aku hanya ingin menjemputmu, kurasa aku cukup menunggu disini saja" tolaknya "baiklah, tunggu sebentar. aku akan bersiap-siap" ujarku lalu bergegas meninggalkannya menuju kamar.
Sesampainya di kamar aku tidak melakukan banyak hal, aku hanya berganti pakaian : celana jeans hitam dan kaus lengan pendek putih dengan bendera amerika serikat serta tulisan "USA" di atasnya. setelah itu, tak lupa kukenakan tas selempangku di sebelah pundak lalu berlari kecil menuju pintu depan "kau siap?" tanya Ha Young, aku mengangguk dengan ekspresi riang dan kamipun berjalan keluar menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari rumahku.
Halte bus itu sangat ramai rupanya, banyak pegawai-pegawai departement store yang sedang menunggu bus untuk pergi bekerja. akhirnya kami sampai di halte bus tersebut, karena tidak ada tempat duduk yang kosong, kami terpaksa berdiri menunggu bus datang.
Selang lima menit, bus yang ditunggu-tunggu pun datang, aku dan Ha Young naik ke dalam bus dengan segera, siapa cepat dia akan dapat. kalau tidak begitu, kami bisa jadi sasaran Mr.Choi untuk dimarahi. kami memilih duduk di kursi dua set paling depan. tak lama kemudian bus melaju.
***
"Hye Ri, pria itu datang" ujar Ha Young membuatku menghentikan gerakan tanganku yang sedang mengetik pembayaran pelanggan "Ha Young-ah, kau bisa lihat aku sedang apa?'' ocehku sambil meneruskan yang tadi, Ha Young menyeriangai "gomawo..." ucap ibu pelanggan sembari pergi ''ah, gomawo.." jawabku linglung, "ini semua gara-gara kau" gerutuku "maaf.. aku hanya ingin memberitahumu bahwa pria itu datang" jelas Ha Young sekali lagi. aku memandang sekeliling,oh, pria itu lagi-lagi duduk di meja nomor 11 "kau bisa melihatnya bukan?" tanya Ha Young memastikanku, aku hanya mengangguk dan mulai menghitung uang bayaran ibu pelanggan tadi "Hye Ri, aku akan ke dapur ya" ujarnya sambil berlalu, aku mengangguk lagi. aku kembali memfokuskan pikiranku pada uang tadi, ibu pelanggan tadi memesan banyak sekali makanan, sampai-sampai aku kewalahan "steak panggang dan jus apel satu" secara refleks kaget sehingga membiarkan tanganku mendorong loker di bawah meja dengan gerakan cepat dan "aw!" jari telunjuk kiriku terjepit didalamnya "ada apa?" aku menarik jariku itu dan mengangkat kepala. aku terbelalak ketika mengetahui apa yang ada di hadapanku, pria misterius itu lagi. "apa yang terjadi padamu?" satu detik, dua detik, tiga detik, aku masih bergeming "ah, tidak ada apa-apa" jawabku sambil mengibaskan satu tanganku, pria itu mendesah pelan "steak panggang dan jus apel satu" ujar pria tersebut "ya, baiklah.. ada lagi?" tawarku dengan sedikit canggung "tidak" jawabnya dengan segera "steak panggang dan jus apel satu!" teriakku "keurae!" jawab Mr.Yang dari dalam sana, aku mengadahkan kepalaku, pria itu sudah kembali ke tempatnya. dan lagi-lagi ia membaca buku, tapi.. kali ini sepertinya berbeda, ia menatap buku itu memang, tapi sepertinya ia sedang tidak membaca. ia terlihat seperti sedang... melamun? berfikir? enatahlah, aku bukan peramal, jadi aku tidak bisa memastikan apa itu.
***
"Ha Young-ah, apa kau punya plester?" tanyaku pada Ha Young yang serius membaca tabloid di atas sofa panjang, ia menurunkan tabloid itu dari hadapannya "tidak, kurasa kau bisa tanyakan itu pada Na Ri" sarannya, lalu kembali membaca. aku berjalan ke ruangan sebelah, atau lebih tepatnya dapur, kulihat disana ada Na Ri yang sibuk mencuci piring, aku mendekatinya "Na Ri-ah, apa kau punya plester?'' tanyaku sambil terus menekan telunjuk kiriku yang masih mengeluarkan darah, Na Ri mematikan keran air lalu menganggapiku "ya Tuhan, ada apa dengan jarimu? biar kucarikan plester dan obat merah" ujar Na Ri cepat tanggap dan bersegera. aku membuka keran air dan mencuci darah itu sembari menunggu Na Ri. "Hye Ri, kemarilah!" teriak Na Ri dari ruangan istirahat tadi, aku segera menyudahi pekerjaanku dan bergegas mendekati Na Ri "mana jarimu yang terluka?" tanyanya, kutunjukkan telunjuk kiriku padanya, ia meneteskan sedikit obat merah diatas telunjukku itu, lalu ia tutup luka itu dengan kapas, dan membaluti telunjukku dengan plester. "selamat sore semuanya!!" teriak seorang pria jangkung yang baru datang, dia Sang Nam, pelayan juga disini, pertama kali saat melihatnya, pasti semua orang bisa mengira dia orang yang periang, sebab itu kenyataan. "Sang Nam-ah, sebaiknya kau membantuku mencuci piring-piring ini!" teriak Jong Moon Jin, pelayan lain dari arah dapur, Sang Nam menunjukkan ekspresi kewalahan "omo..(astaga) apa kau tidak tahu, aku baru saja berdepat dengan seorang ibu tua yang menginginkan restoran ini buka? dia sangat keras kepala sampa-sampai menyumpahiku yang tidak-tidak" jelasnya, seketika ruangan penuh gelak tawa, begitupun aku "benarkah?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jariku yang masih diobati Na Ri "tentu saja, dan itu membuatku gila" jawabnya sambil mengacak-acak rambut, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan tawa, sementara yang lain meledakkan tawanya kembali. restoran ini menga hanya buka 7 jam tiap harinya, yaitu dari pukul 10.00 AM sampai 05.00 PM, dan hal-hal seperti tadi itu memang sering terjadi "Hye Ri-ah, ada apa dengan jarimu?" tanya Sang Nam yang sepertinya baru sadar kalau sejak tadi aku sedang diobati "sebuah insiden kecil terjadi. jangan khawatir, ini ulahku sendiri" jelasku, ia manggut-manggut "selesai" celoteh Na Ri dengan senyum kecil "gomawo" ujarku mambalas senyumannya itu "tidak masalah, semoga lekas sembuh" "kurasa kau berbakat jadi dokter" ungkapku, Na Ri mengankat kedua alisnya heran "jangan bergurau.." ujarnya sambil menahan tawa "kupikir aku serius.." sanggahku dengan nada meyakinkan "kalau begitu.. ya, semoga" kata Na Ri sambil berharap.
***
Senin, 09 Juli 2012
HALLYU STAR'S BIRTHDAY 2012 (PHOTOS)
-Seohyun girls generation's Birthday (28 June)

-Sungmin super junior's Birthday(1 January)

-Kyuhyun super junior's Birthday (3 February)
-Wooyoung 2PM's Birthday (30 April)
-Daesung big bang's Birthday (26 April)
-Hyomin and Jiyeon T-Ara's Birthday (30 May and 7 June)
-Sungmin super junior's Birthday(1 January)
-Kyuhyun super junior's Birthday (3 February)
-Junsu 2PM's Birthday (15 January)
-Wooyoung 2PM's Birthday (30 April)
-Jessica girls generation's Birthday (18 April)
-CL 2ne1's Birthday (26 February)

-Daesung big bang's Birthday (26 April)
-Yoona girls generation's Birthday (30 May)
-Ye eun wonder girls's Birthday (26 May)
-Hyomin and Jiyeon T-Ara's Birthday (30 May and 7 June)
-Sulli f(x)'s Birthday (29 March)
-Sooyoung girls generation's Birthday (10 February)

-Nickhun 2PM's Birthday (15 January)
-Leeteuk super junior's Birthday (1 July)

itulah kelimabelas foto-foto perayaan ulang tahun sebagian artis kpop, yang lainnya kapan-kapan lagi yaa :) "saengil chukkaehamnida uri oppa and onni"
Minggu, 08 Juli 2012
IF YOU ASK ME THE LOVE (chapter 2)
Mana ya pria itu? padahal bibi bilang, dia akan datang ke taman ini pukul 09.00 AM, aku tahu sekarang waktunya.. tapi mengapa dia belum tampak juga? apa mungkin karena aku belum mengenalinya jadi aku tidak bisa menemukannya? tanpa habis pikir akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kembali pada bibi, aku menekan nomor telepon bibi pada hp-ku "yeoboseyo?" sapaku memulai pembicaraan "Hye Ri-ah, apa kau sudah bertemu Jung Mo?" tanya bibi begitu antusias "belum bi, aku tidak bisa mengenalinya.." desahku sedikit peduli " dia mengenakan jas hitam dengan kemeja biru muda" jas hitam berkemeja biru muda? memangnya ada pria berpakaian seperti itu disini? yang kulihat kebanyakan adalah mereka yang memakai kaus santai dengan celana trainingnya masing-masing, aku terus memandang sekeliling "apa kau menemukannya?" tanya bibi dengan segala kepeduliannya, aku mengatur nafasku, kubenarkan letak syal yang membalut leherku "belum.." jawabku tenang "baiklah, bibi akan menelponnya.. dimana kau sekarang?" ujar bibi dengan suara bijak "aku di depan restoran tempatku bekerja, namanya 'Choi's Lunch' " jelasku sambil memandang bangunan di hadapanku "bi, sepertinya aku akan bekerja dulu" lanjutku "bekerja? baiklah, akan bibi sampaikan pada Jung Mo" tanggap bibi tanpa komentar, sepertinya wajahku aneh kali ini. Bibi mengakhiri sambungan, baru saja aku memasukkan hp-ku kedalam tas tiba-tiba suara dering itu terdengar lagi, siapa kali ini? kuambil kembali hp yang baru saja kumasukkan itu, ups, itu Mr.Choi "yeoboseyo Hye Ri-ssi!" ujar Mr.Choi dengan suara yang bersemangat, atau terlalu bersemangat sehingga membuatku tersentak "ada apa Mr.Choi?"tanyaku sambil memindahkan posisi hp ke telinga kanan "kau bisa datang ke restoranku sekarang?" ia balik bertanya "kebetulan sekali, saya ada di depan restoranmu Mr.Choi, hendak masuk" jelasku dengan nada ramah, Mr.Choi tertawa "baiklah datangalah kemari, pegawai lain sudah berkumpul" ujarnya "ah iya, arasseo arasseo" jawabku sekaligus mengakhiri pembicaraan. segera aku bergegas memasuki restoran berukuran besar di depanku, sembari barjalan, aku memasukkan hp-ku kembali ke dalam tas.
Aku memasuki restoran itu, didalamnya terdapat kira-kira tigapuluhan meja, di ujung ruangan terdapat meja kasir dan counter pemesanan dan di kedua sudut paling depannya terdapat LCD TV yang lumayan besar. setelah meneliti itu semua kusimpulkanlah bahwa sepertinya restoran ini lumayan bergengsi, aku baru melihatnya hari ini, kemarin saat melamar kerja aku hanya mengunjungi kantor besar Mr.Choi yang kebetulan teman baik appa."maaf, anda pekerja baru?" suara seseorang disampingku, astaga, aku baru sadar ternyata aku tidak sendirian disini, dia seorang gadis seumuranku barambut panjang sepinggang "ya. saya pekerja baru. Kang Hye Ri, senang berkenalan denganmu" ujarku sambil mengulurkan tangan kananku ke depan, seulass senyum tersungging di bibir gadis itu "saya Oh Ha Young, salam kenal" tanggap gadis bernama Oh Ha Young tersebut sambil menyambut uluran tanganku "kau mengambil bagian counter bukan?"tanyanya lagi memastikanku "benar" jawabku singkat "kau sama denganku" lanjutnya tanpa ditanya "benarkah? kurasa kita bisa berteman baik" ujarku "ya, kurasa begitu" jawab Ha Young dengan yakinnya.
***
"Selamat siang dan selamat datang di Choi's Lunch, ada yang bisa saya bantu?" sapaku seramah mungkin kepada pelanggan pertama yang datang : seorang wanita setengah baya dan seorang anak perempuan kecil. "terimakasih. sepertinya orange juice cukup menyegarkan, saya pesan dua" jawab wanita tersebut "ada lagi?" tawarku dengan nada yang sama "ah, tidak terimakasih" sergahnya dengan senyum lebar. segeralah wanita tadi terhuyung-huyung menuju meja di sudut kiri ruangan, aku memandang meja tempatnya duduk, hmm.. nomor 6. "Mr.Yang, dua orange juice untuk nomor 6!" ujarku setengah berteriak, seorang pria berusia awal tigapuluhan muncul dari pintu bertuliskan 'waiter and waitress only' "nona muda, apa yang kau katakan tadi?" tanya pria tersebut padaku "dua orange juice untuk nomor 6" ulangku "arasseo" jawabnya disertai senyum kecil, Mr.Yang adalah koki andalan disini, ia bekerja disini sejak umur duapuluh. aku harap aku bisa mengikuti jejaknya walaupun usiaku dua tahun lebih tua dari usia Mr.Yang saat pertama bekerja disini, tidak masalah bukan?
'Kring kring' suara pintu restoran yan dibuka membuyarkan lamunan singkatku, aku tersentak kaget dan dengan refleks menoleh kearah pintu terbuka. seorang pria berkemeja abu-abu gelap dan berkacamata dengan rambut lebat seleher masuk membawa tas ransel hitam yang setia di pundaknya. syal yang menutupi mulutnya memberi kesan misterius. "Hye Ri, ada apa?" tanya seseorang disampingku, itu Ha Young "ah, tidak, siapa pria itu? seram benar.." jawabku tanpa mengalihkan pandangan "bukan seram, itu keren Hye Ri.. jarang-jarang di Seoul ada pria seperti itu" tanggap Ha Young menentangku, aku menoleh padanya, memasang wajah heran "benar kan?" timpalnya dengan senyum simpul, "ada apa di dalam tasnya itu? kelihatannya tas itu selalu dipakainya" komentarku terlebih pada diri sendiri "itu buku, lihat saja sebentar lagi dia akan membaca bukunya itu" jawab Ha Young tanpa kuduga, darimana dia tahu semua tentang pria itu? mengherankan. benar saja, pria itu mengambil sebuah buku dari tasnya lalu membacanya "nah,kau lihat? benar kan?"seru Ha Young dengan bangganya "bagaimana kau tahu?"aku mulai penasaran "dia selalu datang kesini setiap jam makan siang"jelasnya sambil terus memandang pria itu.
***
"Hye Ri-ssi, tunggu sebentar!" secara sigap aku membalikkan badan "ada apa Mr.Choi?' tanyaku ringan, seulas senyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya "boleh saya menitip sesuatu?" usulnya dengan ramah "tentu saja" jawabku singkat. ia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya lalu memberikannya padaku, sementara aku menerimanya dengan wajah heran "untuk Kang Sae Eun" tegasnya tanpa memudarkan senyum, aku terbelalak mendengar nama bibi disebut "maksud anda bibi Sae Eun?" tanyaku sedikit gugup, ia mengangguk. ya ampun, ada apa sebenarnya? "maaf. darimana anda bisa mengenal bibi Sae Eun?"tanyaku dengan nada curiga "untuk lebih lanjutnya kau boleh bertanya pada Sae Eun sendiri" jawabnya ringan, aku mengangkat alisku. "begitu? baiklah, saya rasa saya harus pergi sekarang. permisi" pamitku "baiklah. terimakasih" tanggapnya.
Aku mulai menapakkan langkah menyusuri tepian jalan yang tertutupi daun daun yang gugur. seperti kemarin, angin masih berhembus kencang dan seringkali menerpa rambut sebahuku. aku masih terheran-heran dengan amplop tadi. kubuka resleting tas selempangku dan kuambil secarik amplop dari Mr.Choi tadi disana tertulis : untuk Kang Sae Eun dari Choi Jong Min. tunggu sebentar, apa aku salah lihat ya? tidak tidak, aku tidak sakit mata atau minus atau apalah. mataku normal.baiklah, kucoba untuk percaya. aku makin penasaran ada apa sebenarnya, jadi kupercepat langkahku hingga sampai di sebuah halte bus. aku berhenti. kulirik jam tanganku, pukul 04.35 PM rupanya. entah karena keberuntungan atau apalah, tanpa menunggu lama bus jurusan Incheon pun datang, aku bersorak riang di dalam hati. orang-orang yang sejak tadi menunggu mulai menaiki bus tersebut, aku baru naik saat orang-orang duduk di posisinya masing-masing. beberapa orang melirikku yang berjalan di lorong bus, beberapa lagi sibuk dengan dirinya sendiri. aku memilih duduk di kursi seat paling belakang. kuhempaskan tubuh lelahku di kursi tersebut. melelahkan sekali hari ini. kupejamkan mataku sejenak untuk melepas penat. "kau menginjak tasku" seseorang disampingku bersuara ketus, aku tetap bergeming, tidak peduli. "maaf, kau menginjak tasku" aku membuka mata dan menoleh kesamping. ya Tuhan, pria berkacamata tadi pagi duduk disampingku seraya membaca buku. kebetulan apa ini? ah,tidak, maksudku apa dia yang tadi bersuara? "maaf, apa anda yang tadi berbicara?"tanyaku, berusaha sopan. "kau menginjak tasku" responnya tanpa berpaling dari buku yang ada di hadapannya. aku melirik ke bawah. o-oh, aku memang menginjak tasnya, kusingkirkan tas itu dari kakiku "maaf, saya tidak sengaja" ujarku membela diri, pria itu tidak merespon. pria macam apa dia? tidak menghargai orang sekali. aku terus menggerutu dalam hati. apa dia tidak mendengarku? apa ada sepasang headset di telinganya? tidak.
Aku memalingkan pandangan ke jendela, kuambil cara akhir : membiarkan pria itu bertindak sesukanya. ya, aku tidak peduli. sekarang, hanya suara bus yang melaju yang terdengar di telingaku. aku menoleh sejenak kearah pria tadi, dia masih serius membaca buku. aku menghembuskan nafas kesal.
***
Aku menekan bel interkom rumahku untuk yang ke beberapa kalinya, tidak ada jawaban sejauh ini. mana Seung Ho? apa dia sudah tidur? sekarang masih jam 06.00 PM, tidak biasanya jika ia sudah tidur. "Nunnan? kaukah itu?" Seung Ho menjawabnya "ya, cepat bukakan pintunya" balasku. tak lama, pintupun terbuka, seperti biasa, Seung Ho menutup jalan "aku yakin nunnan mengerti" celotehnya dengan nada canda. ya ampun, aku melupakan sesuatu rupanya. "mian.. (maaf) aku melupakan itu" ujarku penuh sesal "mwo?! (apa?!) apa yang terjadi padamu? bagaimana bisa kau melupakannya?" omel Seung Ho, dia terdengar seperti ibuku, mengomel tidak jelas, aku mengerutkan kening "mian.. aku janji besok akan kubawakan dua batang cokelat, oke?" hiburku, berharap melihat ulasan senyumnya, oh my god, Hye Ri jangan bermimpi, lihat saja, adikmu yang satu ini masih memasang wajah murung "aku tidak mau!" tolaknya dengan suara keras, astaga, dia terlihat seperti anak usia tujuh tahun. "lalu apa yang kau mau?" tanyaku dengan suara lembut, ia mulai berpikir, kurasa. aku mengangkat alis. "aku mau nunnan mengajakku ke taman kota besok!" tegasnya "taman?" tanyaku meyakinkannya, ia mengangguk "kita sudah lama tidak pergi ke taman kota sejak eomma pergi" ujarnya memberi alasan "arasseo arasseo," aku mengiyakan "tapi kau harus menungguku sampai pulang kerja, kita akan ke taman besok malam, bagaimana?" aku memberi syarat "aku mengerti" jawabnya dengan terpaksa kurasa, kulukiskan senyuman lebar di bibirku "sudahlah, ayo masuk, anginnya besar" ujarku, Seung Ho menurut, akupun masuk dan menutup pintu.
Aku memasuki restoran itu, didalamnya terdapat kira-kira tigapuluhan meja, di ujung ruangan terdapat meja kasir dan counter pemesanan dan di kedua sudut paling depannya terdapat LCD TV yang lumayan besar. setelah meneliti itu semua kusimpulkanlah bahwa sepertinya restoran ini lumayan bergengsi, aku baru melihatnya hari ini, kemarin saat melamar kerja aku hanya mengunjungi kantor besar Mr.Choi yang kebetulan teman baik appa."maaf, anda pekerja baru?" suara seseorang disampingku, astaga, aku baru sadar ternyata aku tidak sendirian disini, dia seorang gadis seumuranku barambut panjang sepinggang "ya. saya pekerja baru. Kang Hye Ri, senang berkenalan denganmu" ujarku sambil mengulurkan tangan kananku ke depan, seulass senyum tersungging di bibir gadis itu "saya Oh Ha Young, salam kenal" tanggap gadis bernama Oh Ha Young tersebut sambil menyambut uluran tanganku "kau mengambil bagian counter bukan?"tanyanya lagi memastikanku "benar" jawabku singkat "kau sama denganku" lanjutnya tanpa ditanya "benarkah? kurasa kita bisa berteman baik" ujarku "ya, kurasa begitu" jawab Ha Young dengan yakinnya.
***
"Selamat siang dan selamat datang di Choi's Lunch, ada yang bisa saya bantu?" sapaku seramah mungkin kepada pelanggan pertama yang datang : seorang wanita setengah baya dan seorang anak perempuan kecil. "terimakasih. sepertinya orange juice cukup menyegarkan, saya pesan dua" jawab wanita tersebut "ada lagi?" tawarku dengan nada yang sama "ah, tidak terimakasih" sergahnya dengan senyum lebar. segeralah wanita tadi terhuyung-huyung menuju meja di sudut kiri ruangan, aku memandang meja tempatnya duduk, hmm.. nomor 6. "Mr.Yang, dua orange juice untuk nomor 6!" ujarku setengah berteriak, seorang pria berusia awal tigapuluhan muncul dari pintu bertuliskan 'waiter and waitress only' "nona muda, apa yang kau katakan tadi?" tanya pria tersebut padaku "dua orange juice untuk nomor 6" ulangku "arasseo" jawabnya disertai senyum kecil, Mr.Yang adalah koki andalan disini, ia bekerja disini sejak umur duapuluh. aku harap aku bisa mengikuti jejaknya walaupun usiaku dua tahun lebih tua dari usia Mr.Yang saat pertama bekerja disini, tidak masalah bukan?
'Kring kring' suara pintu restoran yan dibuka membuyarkan lamunan singkatku, aku tersentak kaget dan dengan refleks menoleh kearah pintu terbuka. seorang pria berkemeja abu-abu gelap dan berkacamata dengan rambut lebat seleher masuk membawa tas ransel hitam yang setia di pundaknya. syal yang menutupi mulutnya memberi kesan misterius. "Hye Ri, ada apa?" tanya seseorang disampingku, itu Ha Young "ah, tidak, siapa pria itu? seram benar.." jawabku tanpa mengalihkan pandangan "bukan seram, itu keren Hye Ri.. jarang-jarang di Seoul ada pria seperti itu" tanggap Ha Young menentangku, aku menoleh padanya, memasang wajah heran "benar kan?" timpalnya dengan senyum simpul, "ada apa di dalam tasnya itu? kelihatannya tas itu selalu dipakainya" komentarku terlebih pada diri sendiri "itu buku, lihat saja sebentar lagi dia akan membaca bukunya itu" jawab Ha Young tanpa kuduga, darimana dia tahu semua tentang pria itu? mengherankan. benar saja, pria itu mengambil sebuah buku dari tasnya lalu membacanya "nah,kau lihat? benar kan?"seru Ha Young dengan bangganya "bagaimana kau tahu?"aku mulai penasaran "dia selalu datang kesini setiap jam makan siang"jelasnya sambil terus memandang pria itu.
***
"Hye Ri-ssi, tunggu sebentar!" secara sigap aku membalikkan badan "ada apa Mr.Choi?' tanyaku ringan, seulas senyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya "boleh saya menitip sesuatu?" usulnya dengan ramah "tentu saja" jawabku singkat. ia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya lalu memberikannya padaku, sementara aku menerimanya dengan wajah heran "untuk Kang Sae Eun" tegasnya tanpa memudarkan senyum, aku terbelalak mendengar nama bibi disebut "maksud anda bibi Sae Eun?" tanyaku sedikit gugup, ia mengangguk. ya ampun, ada apa sebenarnya? "maaf. darimana anda bisa mengenal bibi Sae Eun?"tanyaku dengan nada curiga "untuk lebih lanjutnya kau boleh bertanya pada Sae Eun sendiri" jawabnya ringan, aku mengangkat alisku. "begitu? baiklah, saya rasa saya harus pergi sekarang. permisi" pamitku "baiklah. terimakasih" tanggapnya.
Aku mulai menapakkan langkah menyusuri tepian jalan yang tertutupi daun daun yang gugur. seperti kemarin, angin masih berhembus kencang dan seringkali menerpa rambut sebahuku. aku masih terheran-heran dengan amplop tadi. kubuka resleting tas selempangku dan kuambil secarik amplop dari Mr.Choi tadi disana tertulis : untuk Kang Sae Eun dari Choi Jong Min. tunggu sebentar, apa aku salah lihat ya? tidak tidak, aku tidak sakit mata atau minus atau apalah. mataku normal.baiklah, kucoba untuk percaya. aku makin penasaran ada apa sebenarnya, jadi kupercepat langkahku hingga sampai di sebuah halte bus. aku berhenti. kulirik jam tanganku, pukul 04.35 PM rupanya. entah karena keberuntungan atau apalah, tanpa menunggu lama bus jurusan Incheon pun datang, aku bersorak riang di dalam hati. orang-orang yang sejak tadi menunggu mulai menaiki bus tersebut, aku baru naik saat orang-orang duduk di posisinya masing-masing. beberapa orang melirikku yang berjalan di lorong bus, beberapa lagi sibuk dengan dirinya sendiri. aku memilih duduk di kursi seat paling belakang. kuhempaskan tubuh lelahku di kursi tersebut. melelahkan sekali hari ini. kupejamkan mataku sejenak untuk melepas penat. "kau menginjak tasku" seseorang disampingku bersuara ketus, aku tetap bergeming, tidak peduli. "maaf, kau menginjak tasku" aku membuka mata dan menoleh kesamping. ya Tuhan, pria berkacamata tadi pagi duduk disampingku seraya membaca buku. kebetulan apa ini? ah,tidak, maksudku apa dia yang tadi bersuara? "maaf, apa anda yang tadi berbicara?"tanyaku, berusaha sopan. "kau menginjak tasku" responnya tanpa berpaling dari buku yang ada di hadapannya. aku melirik ke bawah. o-oh, aku memang menginjak tasnya, kusingkirkan tas itu dari kakiku "maaf, saya tidak sengaja" ujarku membela diri, pria itu tidak merespon. pria macam apa dia? tidak menghargai orang sekali. aku terus menggerutu dalam hati. apa dia tidak mendengarku? apa ada sepasang headset di telinganya? tidak.
Aku memalingkan pandangan ke jendela, kuambil cara akhir : membiarkan pria itu bertindak sesukanya. ya, aku tidak peduli. sekarang, hanya suara bus yang melaju yang terdengar di telingaku. aku menoleh sejenak kearah pria tadi, dia masih serius membaca buku. aku menghembuskan nafas kesal.
***
Aku menekan bel interkom rumahku untuk yang ke beberapa kalinya, tidak ada jawaban sejauh ini. mana Seung Ho? apa dia sudah tidur? sekarang masih jam 06.00 PM, tidak biasanya jika ia sudah tidur. "Nunnan? kaukah itu?" Seung Ho menjawabnya "ya, cepat bukakan pintunya" balasku. tak lama, pintupun terbuka, seperti biasa, Seung Ho menutup jalan "aku yakin nunnan mengerti" celotehnya dengan nada canda. ya ampun, aku melupakan sesuatu rupanya. "mian.. (maaf) aku melupakan itu" ujarku penuh sesal "mwo?! (apa?!) apa yang terjadi padamu? bagaimana bisa kau melupakannya?" omel Seung Ho, dia terdengar seperti ibuku, mengomel tidak jelas, aku mengerutkan kening "mian.. aku janji besok akan kubawakan dua batang cokelat, oke?" hiburku, berharap melihat ulasan senyumnya, oh my god, Hye Ri jangan bermimpi, lihat saja, adikmu yang satu ini masih memasang wajah murung "aku tidak mau!" tolaknya dengan suara keras, astaga, dia terlihat seperti anak usia tujuh tahun. "lalu apa yang kau mau?" tanyaku dengan suara lembut, ia mulai berpikir, kurasa. aku mengangkat alis. "aku mau nunnan mengajakku ke taman kota besok!" tegasnya "taman?" tanyaku meyakinkannya, ia mengangguk "kita sudah lama tidak pergi ke taman kota sejak eomma pergi" ujarnya memberi alasan "arasseo arasseo," aku mengiyakan "tapi kau harus menungguku sampai pulang kerja, kita akan ke taman besok malam, bagaimana?" aku memberi syarat "aku mengerti" jawabnya dengan terpaksa kurasa, kulukiskan senyuman lebar di bibirku "sudahlah, ayo masuk, anginnya besar" ujarku, Seung Ho menurut, akupun masuk dan menutup pintu.
Minggu, 01 Juli 2012
IF YOU ASK ME THE LOVE (chapter 1)
Angin yang besar menerpa rambut sebahuku, astaga map yang sejak tapi kupegang terlontar ke belakang. aku mendengus kesal, sudah terlalu lelah diriku hari ini. dengan langkah terpaksa, aku memutar arah untuk sejenak memungut map tersebut. setelah kuambil, aku mendekap map tersebut agar tidak terbawa angin lagi. cuaca hari ini memang cukup buruk, kurasa ini awal musim gugur. lihat saja, daun-daun mulai jatuh berguguran dari pohonnya, angin hari ini pun terasa dingin. mungkin esok hari memakai syal dan sweter sudah menjadi kewajiban.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan kota Incheon yang ramai oleh pejalan kaki yang juga sepertinya kelelahan sepertiku. ah sudahlah, mungkin aku hanya menyamai tanpa bukti. baiklah, sedikit informasi tentang diriku, seharian ini aku sibuk mencari pekerjaan. aku Kang Hye Ri, gadis Korea mutlak berusia duapuluh tiga tahun. lima tahun lalu, appa atau ayahku meninggal disaat kelulusan SMA-ku. dan karena itu, eomma atau ibuku pergi mambanting tulang ke negeri seberang, China. dan beginilah, hari ini akhirnya aku mendapat pekerjaan untuk menghidupi aku sendiri dan adik laki-lakiku yang berusia lima belas tahun, Kang Seung Ho setelah lima tahun ini telah menguras tenaga bibiku, bibi Sae Eun yang bersedia menanggung jawabi kehidupanku dan Seung Ho, sebuah bahan motivator bagiku.
Sebuah rumah besar yang ditutupi gerbang tinggi yang tua berdiri tegak di hadapanku, mungkin kalau dilihat dari luar, rumah ini seperti tidak berpenghuni, tapi kenyataannya, akulah penghuninya. aku mendorong gerbang tinggi tersebut, dan suara decitan yang disebabkan gerbang tersebut membuat telingaku bising, gerbang ini sudah tua kubilang. halaman yang lumayan luas terhampar di depanku, dulu aku dan Seung Ho sering bermain bola bersama appa di halaman ini. tapi sekarang halaman ini sudah tidak terurus. aku terus berjalan melewati halaman yang penuh kenangan tersebut. aku sampai di teras yang permukaannya lebih tinggi dari halaman tadi, kupencet bel interkom yang ada di sebelah pintu. tak lama kemudian seorang anak laki-laki membuka pintu, itu Seung Ho. "nunnan.. apa kau membawa sesuatu?" tanya Seung Ho sambil terus berdiri di depan pintu, dia mencegat jalanku. "maksudmu ini?" tanyaku sambil menunjukkan sebatan coklat yang kuambil dari kantung celanaku, Seung Ho menyeringai senang, coklat tadi langsung ia ambil dari tanganku, "kau ini.." ocehku sambil mengacak-acak rambutnya, perlu diketahui, hobby Seung Ho yaitu meminta sesuatu apabila aku pulang dari suatu tempat, aneh bukan? aku juga tidak mengerti ada kelainan apa padanya, ups.. aku hanya bercanda, dia normal. hanya unik mungkin. "nunnan.. kau darimana saja?" tanyanya lagi dengan wajah sok-pedulinya "aku mencari pekerjaan" jawabku singkat, ia hanya manggut-manggut "tidak mungkin kan kita terus bergantung pada bibi," lanjutku "aku akan masuk, cepat menyingkir" pintaku, Seung Ho menyingkir satu langkah kesamping. aku melangkahkan kaki memasuki ruang keluarga, aku terkesiap melihat kaset-kaset harry potter koleksiku berantakan, "Seung Ho!!!!" jeritku, segera aku kembali ke depan dan mendapati Seung Ho dengan wajah pura-pura polos, aku menarik ujung daun telinganya dengan kesal "aaa!!!! ada apa nunnan?!" jeritnya kesakitan "apa yang kau lakukan dengan kaset-kaset kesayanganku??!!!" bentakku "arasseo arasseo, aku akan membereskannya! lepaskan tanganmu!" teriaknya tidak kalah kencang, aku melepaskan tanganku dengan dengusan kesal "ayo bereskan!" bentakku lagi, Seung Ho masuk ke dalam. aku menghela nafas sambil berkacak pinggang. astaga, apakah aku terlihat seperti monster tadi? aku tidak peduli, kaset-kaset itu aset berhargaku yang kukumpulkan sejak kelas dua SMA. konyol sekali kedengarannya.
Aku masuk kembali ke dalam dan meihat Seung Ho yang masih sibuk membereskan kaset-kasetku, wajahnya terlihat jengkel sekali, aku hanya bisa menahan tawa melihatnya. "bereskan yang benar," ujarku sambil berlalu. aku bergegas menuju kamarku yang terletak di ujung rumah, sesampainya di kamar, aku langsung menjatuhkan diriku di atas kasur, kupejamkan mataku dan merasakan hawa sejuk kamarku yang dihasilkan oleh AC atau air coditioner. terang saja, aku lelah sekali, kurasa aku sudah menjelaskan penyebabnya tadi. aku lega, besok pekerjaanku dimulai. malam ini aku akan mengunjungi bibi untuk memberitahu hal ini. aku harus berterimakasih padanya.
Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 07.30 PM, kurasa aku harus segera pergi sebelum larut. maka aku segera berganti pakaian : jeans panjang dan kaus putih panjang, tak lupa kukenakan juga tas selempang kecil. setelah siap, aku langsung berjalan. "nunnan, kau mau kemana?" tanya Seung Ho saat aku melewati ruang keluarga "aku akan ke rumah bibi, jaga rumah ya!" ujarku seraya pergi. Seung Ho hanya mengangguk, sepertinya.
***
Tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai di rumah bibi Sae Eun, langkahku terhenti ketika melihat seorang laki-laki berjalan keluar dari rumah bibi, siapa dia? sepertinya aku baru melihat orang itu, aku tidak bisa melihat wajahnya disebabkan kurangnya cahaya. pria itu membawa tas ransel besar, sepertinya isi tas itu penuh. siapa ya?
Setelah pria itu pergi, segera kulanjutkan langkahku, kutekan bel interkom rumah bibi, tak lama bibi pun membuka pintu "oh, Hye Ri? apa kabar?" sapa bibi dengan ramah "aku baik-baik saja bi.." jawabku dengan senyuman "ayo masuk" ujar bibi mempersilahkan, aku membuntuti langkahnya masuk lalu duduk di sofa "bibi, pria tadi itu siapa?" tanyaku memberanikan diri "itu pegawai perpustakaan, kemarin bibi memesan sebuah buku" jelas bibi, aku hanya ber 'ooh' sambil mengangguk-angguk, bibi terkekeh, aku menatapnya heran "jangan sampai kau berpikiran bahwa bibimu ini akan mencari suami lagi" ujar bibi sambil menahan tawanya, aku tidak mengerti "aku tidak mengerti bi.." ujarku mengakui "bibi hanya takut kau berpikiran macam-macam tentang pria tadi.."jelas bibi lagi, aku mulai mengerti "tidak bi, aku rasa bibi cukup setia" komentarku. seperti itulah, bibi ditinggal suaminya dua tahun lalu,padahal mereka baru satu tahun menikah dan usia bibi baru memasuki awal tigapuluhan. untuk beberapa saat keadaan hening "Hye Ri-ah, apa kau menyukai seseorang?" tanya bibi memecah keheningan, aku terperanjat. "belum bi, aku belum mementingkan hal itu" jawabku dengan kikuk "mau kukenalkan dengan seorang pria?" tawar bibi, lagi-lagi aku terperanjat, untuk kali ini aku tidak bisa berkata apapun "mau tidak?" tanya bibi sekali lagi karena melihatku yang terus diam "eeh.. kurasa tidak perlu bi, terimakasih" tolakku canggung "ayolah Hye Ri.. namanya Kim Jung Mo, dia seorang model, rekan kerjanya, Lee Ri Yoon adalah atasan bibi" jelas bibi tanpa diminta, karen terus didesak, akhirnya aku meng-iyakan permintaan bibi tersebut "baiklah bi" jawabku pada akhirnya, bibi terlihat senang "baiklah, bibi akan mengenalkannya" ujar bibi dengan senyum lebar, aku ikut tersenyum walau terpaksa "Hye Ri-ah, ada yang ingin kau katakan?" tanya bibi, hampir saja aku melupakan satu hal yang menjadi alasanku datang kesini "bibi, besok aku mulai bekerja di restoran" kataku, bibi terlihat terkejut "apa? bekerja?" ulang bibi " maaf, aku tidak menanyakan pendapat bibi sebelumnya, aku tidak bisa apabila terus bergantung pada bibi" jelasku, bibi terdiam, aku mulai waswas, bagaimana ini? aku bukanlah orang yang pandai mengatur keadaan "maaf bi.." ucapku sekali lagi, bibi menatapku lekat "tidak apa-apa, kau sudah besar, kau berhak melakukan apa yang menurutmu baik. harusnya bibi yang minta maaf karena memperlakukanmu seperti anak kecil" ujarnya mengakui. keadaan menjadi hening. "baiklah bi, terimakasih atas segala yang bibi lakukan padaku dan Seung Ho" ucapku sambil, menatapnya, ia tersenyum simpul " semoga kau sukses, bibi selalu mendoakanmu, jangan lupa cerita pada bibi jika ada masalah" usul bibi, aku mengangguk penuh tekad "baik bi, sepertinya Seung Ho menunggu di rumah" ujarku sambil melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 08.30 PM "tunggu sebentar, bibi punya sesuatu" sergah bibi sambil berlari ke dalam. tak lama kemudian, bibi kembali dengan sepiring puding yang kemudian dimasukkannya ke dalam sebuah kotak makan "bibi yakin kau tdak bisa masuk ke rumah tanpa ini" ocehnya sambil menutup kotak makan tersebut, aku tertawa kecil "maksud bibi Seung Ho?" tanyaku masih menahan tawa "benar sekali! dan kapan ya kira-kira hobby anehnya itu berakhir?" celoteh bibi setengah serius "kurasa hobby tetaplah hobby.. akupun tidak keberatan" anggapku ringan, aku mulai melihat seulas senyum di wajah seriusnya "bawalah ini," ujar bibi sambil memberiku kotak makan tadi,aku menerimanya "terimakasih bi, kurasa ini sudah begitu larut" pamitku sambil bangkit dari sofa, bibi ikut berdiri "hati-hati di jalan ya.. apa perlu bibi antar?" tawar bibi "tidak usah bi.. aku bisa pulang sendiri," ujarku mengelak "benarkah? ya sudah hati-hati," pesan bibi sambil membiarkanku pergi.
***
Kamis, 28 Juni 2012
IF YOU ASK ME THE LOVE
IF YOU ASK ME THE LOVE
"a certain love that comes from not presumed way.."
a novel by Cho Eun Sa
PROLOG
the winter had passed
and the spring has come
we have withered
and our hearts are bruised from longing
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
under the same sky, at different places
because you and i are dangerous
i am leaving you
one letter difference from ‘nim’^
it’s cowardly but i’m hiding because i’m not good enough
cruel breakup is like the end of the road of love
no words can comfort me
perhaps my lifetime’s last melodrama
now its final curtain is coming down
i was born and i met you
and i have loved you to death
my cold heart that has been dyed blue
even with my eyes closed, i can’t feel you
the winter had passed
and the spring has come
we have withered
and our hearts are bruised from longing
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
i feel like my heart has stopped beating
you and i, frozen there, after a war
trauma, that has been carved in my head
once these tears dry up, i will moistly remember my love
i’m neither painful nor lonely
happiness is all self-talk
i can’t stand something more complicated
it’s no big deal, i don’t care
inevitable wandering, people come and go
i was born and i met you
and i have loved you to death
my cold heart that has been dyed blue
even if you have left, i’m still here
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
again tonight, underneath that blue moonlight
i will probably fall asleep alone
even in my dreams, i look for you
and wander around while singing this song
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
(translation from BLUE's bigbang)
and the spring has come
we have withered
and our hearts are bruised from longing
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
under the same sky, at different places
because you and i are dangerous
i am leaving you
one letter difference from ‘nim’^
it’s cowardly but i’m hiding because i’m not good enough
cruel breakup is like the end of the road of love
no words can comfort me
perhaps my lifetime’s last melodrama
now its final curtain is coming down
i was born and i met you
and i have loved you to death
my cold heart that has been dyed blue
even with my eyes closed, i can’t feel you
the winter had passed
and the spring has come
we have withered
and our hearts are bruised from longing
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
i feel like my heart has stopped beating
you and i, frozen there, after a war
trauma, that has been carved in my head
once these tears dry up, i will moistly remember my love
i’m neither painful nor lonely
happiness is all self-talk
i can’t stand something more complicated
it’s no big deal, i don’t care
inevitable wandering, people come and go
i was born and i met you
and i have loved you to death
my cold heart that has been dyed blue
even if you have left, i’m still here
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
again tonight, underneath that blue moonlight
i will probably fall asleep alone
even in my dreams, i look for you
and wander around while singing this song
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
(i’m singing my blues)
used to the blue tears, blue sorrow
(i’m singing my blues)
the love that i have sent away with the floating clouds, oh oh
(translation from BLUE's bigbang)
AYAH YOOCHUN MENINGGAL DUNIA
Personel JYJ ini baru aja dapat cobaan,dia ditinggal ayahnya. Ayah Yoochun meninggal dunia pada hari Rabu (14/3) karena sakit. Nggak disebutin sakitnya apa,tapi memang sudah dirawat di rumah sakit sejak beberapa minggu lalu. Yoochun sendiri mendapat kabar duka itu saat mau naik pesawat,dalam perjalanan pulang ke Seoul,setelah JYJ menggelar konser di USA. Begitu dia sampai di bandara internasional Incheon,Seoul,cowok kelahiran 25 tahun lalu ini langsung diserbu wartawan dan penggemarnya yang banyak berdatangan. Seorang wakil C-Jest ent seperti dilansir dari soompi,menceritakan kondisi itu. "Sekelompok wartawan dan penggemar Yoochun udah ada yang kumpul di bandara dan di rumah sakit, jadi lumayan susah buat ngontrol situasinya. Yoochun sedang terpukul dan berduka, jadi kami berharap ia berada dalam situasi tenang menghadapi kabar sedih ini" ujarnya.
Untungnya, di saat ayah Yoochun mengehembuskan nafas terakhir, Park YooHwan, aktor sekaligus kakak Yoochun, dan ibunya ada di sisi almarhum. Yoochun yang nggakbisa menemani ayahnya di rumah sakit mengaku sedih banget dan terpukul.
Sabtu, 11 Februari 2012
Profil MinHo SHINee
Real name : Choi Minho
Stage name : Minho
Nickname : charismatic FLAME minho
TTL : Incheon, 9 Desember 1991
Hobby : sepakbola dan basket
Posisi : Lead rapper,main vocal
Gol darah : B
keluarga : ayah,ibu,kakak lakilaki (choi min seok) dan adik perempuan (choi eun sa, ahaha :D)
Profil KyuHyun SUPER JUNIOR
Real name : Cho Kyuhyun
Stage name : Kyuhyun
Chinese name : Gui Xian
Nickname : Gamekyu,Sparkyu,Drakyu,Skykyu,technical maknae,etc.
TTL : Seoul, 3 Februari 1988
hobby : main starcraft, nonton film
tinggi : 180 cm
berat : 68 kg
gol darah : A
keluarga : ayah,ibu,kakak perempuan (cho ah ra),dan adik perempuan (cho eun sa,wkwkwk ;))
Langganan:
Postingan (Atom)


