Pohon darah naga atau Dragon’s
Blood Tree dinamai oleh Profesor Issac Bayley Balfour pada tahun 1880.
Pohon ini berbentuk seperti jamur atau payung. Daunnya berbentuk seperti
pedang, keras dan bergerombol diatas pohonnya.
Pohon ini
menghasilkan getah yang berwarna merah darah. Getah itu keluar dari batangnya,
dan disebut darah naga. Getah tersebut sangat berguna, bisa dijadikan obat,
pewarna, pernis, serta pengharum.
Getah
“darah naga” sudah digunakan obat sejak abad ke-1 oleh masyarakat Romawi kuno,
Yunani kuno, dan Arab. Lalu, sekitar abad ke-18, dipakai sebagai pernis untuk
biola di Italia. Saat ini, darah naga masih digunakan sebagai pernis biola dan
juga dipakai dalam proses fotografi.
Menurut
legenda, zaman dulu, ada ular basilisk yang sangat besar. Ular itupun dianggap
sebagai naga. Suatu hari, naga tersebut berkelahi dengan seekor gajah sampai
mati. Kedua binatang tersebut mengeluarkan darah. Darah keduanya dipercaya
memiliki kekuatah ajaib. Maka, ketika darah keduanya bercampur, tumbuhlah
sebatang pohon. Pohon itulah yang kemudian dipercaya merupakan Dragon’s Blood Tree atau pohon darah
naga.
Pohon darah
naga merupakan pohon khas dan asli dari kepulauan Socotra, Yaman. Kepulauan
Socotra bahkan dikenal sebagai penghasil darah naga, sebutan dari getah merah
yang dihasilkan oleh pohon darah naga tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar